Hijab Saved My Life

Muslim buddy icon

Kesannya agak lebay gitu ya, sok religius, tapi menurut saya memang begitulah adanya. Menurut saya, dengan berjilbab ini dapat menyelamatkan hidup saya. Yang mau saya ceritakan ini bukan pengalaman saya yang mau dilecehkan pria. Tenang sepertinya pria ( kecuali suami saya) malas mau berdekatan dengan saya, entah mengapa saya nggak tahu juga. Namun ada pengalaman lain yang ingin saya ceritakan berkaitan pengalaman saya dengan hijab ini.

Jadi ceritanya waktu itu saya sedang menemani suami dinas ke Wamena. Lebih tepatnya sih saya yang (maksa) ikut ke Wamena karena saya nggak mau ditinggal sendiri di tempat saya dan suami tinggal saat ini. Ini sudah perjalanan saya dan suami yang ke sekian. Singkat cerita, karena saya dan suami bukan menetap di Wamena, jadi kami tinggal di sebuah hotel di Wamena. Bukan hotel mewah sih, yang penting bisa kami huni sementara di sana dan yang lumayan bersih lah. Sebenarnya kami bisa saja numpang di rumah teman-teman kerja suami. Tapi karena kami tidak mau merepotkan mereka, lagipula kan kami inginnya berdua saja dan ingin punya privasi (berasa honeymoon, ihik), jadi kami putuskan tinggal di hotel. Karena hotelnya tidak menyediakan sarapan pagi, jadinya kami cari warung untuk makan pagi (bukan sarapan ya karena kami makannya banyak, haha). Yah hitung-hitung sekalian jalan-jalan pagi gitu. Waktu itu kami lagi pengen makan nasi kuning. Kata suami di dekat hotel ada warung yang menjual nasi kuning.

Singkat cerita saya dan suami jalan-jalan cari warung yang menyediakan nasi kuning itu. Setelah berjalan agak jauh, akhirnya kami tiba di warung yang dituju. Dengan percaya diri, saya dan suami masuk ke warung itu. Begitu kami masuk warung, sudah mulai timbul rasa curiga (yang ngeh cuma saya aja tapi). Begitu saya panggil yang jualan, eh si Mbak kaget tuh kok ada laki-laki dan perempuan berjilbab yang datang ke warung. Saya kira mungkin mbaknya kaget karena masih pagi gitu. Waktu saya baca di papan menunya, kok saya baca ada “B1” dan “B2” gitu. Yang saya tahu kalau B1 dan B2 itu biasanya kode untuk makanan kayak babi dan anjing (cmiiw ya). Tadinya saya mau bilang sama suami gak salah nih ke sini??? Kan kalau ada makanan begini bisa saja alatnya kecampur, jadinya yang kita makan jadi haram dong. Akhirnya si mbak bilang kalau di situ jual makanan B1 dan B2, walaupun alat masaknya dipisah.

Ya sudah akhirnya kami minta maaf dan pergi dari warung itu. Untungnya di sebelah warung itu ada yang jual nasi kuning juga. Akhirnya si mbak warung sebelah melambaikan tangan ke kami. Untungnya si mbak ini berjilbab juga. Jadinya saya merasa aman lah. Terus saya cerita sama mbak ini kalau kami nggak tahu di warung yang tadi jual B1 dan B2. FYI aja kalau di Papua itu warungnya jujur, kalau ada makanan yang mengandung B1 dan B2 biasanya mereka tulis di pintu. Jadi bagi kami yang muslim tidak merasa terjebak. Terus si mbak ini bilang saya dan suami lagi beruntung karena pemilik warung makannya (sudah lansia) gak keluar. Kalau yang lain pernah terjebak dan pas nenek ini yang keluar, biasanya dimaki-maki karena tidak jadi makan di sana. Mungkin mereka ini sama kayak saya dan suami yang terjebak.

Jadi sudah tahu kan mengapa saya memberi judul postingan blog saya demikian? Yap karena hijab yang saya pakai ini lah saya dan suami jadi tidak makan makanan yang haram. Hijab saved our life, alhamdulillah🙂. Semoga saya bisa tetap istiqomah menggunakan hijab, amiiiiiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s