Takdir

Tadi pagi saya makan kitkat chit chat dengan seorang teman (identitas saya samarkan). Awalnya saya beri dia ucapan selamat karena ada berita tentang dia di internet karena penelirian tesisnya. Dari pembicaraan itu, akhirnya dia tanya sekarang saya berdomisili di mana. Saya jawab saja kalau saya sekarang ikut suami ke Papua. Bisa ditebak donk, pasti yang ditanya suami kerja di mana. Dia orang ke sekian yang tanya itu, sama seperti pertanyaan yang nampaknya akan menjadi lingkaran setan (tebak sendiri ya). Terus ditanya lagi kok mau ikut? Jawabannya juga sama, yang namanya istri itu wajib ikut ke mana suaminya pergi. Kalau kata temen saya yang lain, kalau saya gak nurut bisa dicambuk suami.

Yang mau saya bahas bukan tentang cambuk-mencambuk atau apa pun. Yang mau saya bahas kali ini adalah “takdir”. Jadi inget waktu suami (waktu itu masih pacar) memberitahu saya lewat telepon begini:

Saya dapat penempatan di Papua. Kalau kamu mau putus, mending sekarang saja daripada nanti menyesal bersama saya.

Sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi kedinasan, maka setelah lulus kuliah akan langsung dapat pekerjaan. Jadi mereka harus bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Di mana pun mereka harus siap. Begitu pula yang terjadi dengan pujaan hati saya. Dia mendapat pengumuman kalau ditempatkan di Papua. Waktu itu saya jawab saja kalau saya akan menerima apa adanya seperti sebelumnya, biasa saja. Yang takut malah dia karena saya kan terbiasa di kota besar, tiba-tiba langsung ke Papua, nanti bisa adaptasi atau tidak. Saya prinsipnya gak masalah toh awalnya keluarga saya juga gak langsung enak. Jadi ya sudah biasa berjuang. Saya juga sudah terbiasa masak, thanks to my mom yang sudah mengajari saya untuk masak dan pekerjaan lainnya. Lagipula kalau dimulai dari nol, pasti akan terasa manis bila sudah berhasil.

Selain itu ada satu hal yang saya yakini.

Takdir

Ya mungkin saja karena saya nggak mau hidup di daerah susah bersama dia, saya sudah memutuskan hubungan saya dengan dia terus saya bersama dengan lelaki lain yang bisa memberikan saya kebahagiaan lebih sesuai yang saya inginkan. Tapi kalau misalnya lelaki itu ternyata kerjanya juga di daerah yang sama dengan pacar saya itu atau di daerah sulit lainnya, berarti memang rejeki saya di situ. Misalnya saya menjalin hubungan dengan cinta pertama saya di masa lalu (mungkin bukan cinta pertama, tapi cinta sendiri karena yang cinta cuma saya saja, haha :p), ternyata sekarang dia juga di daerah yang sama, tepatnya tetangga propinsi. Saya bisa bilang apa. Lagipula jadi seorang wanita itu harus siap dengan kondisi di mana pun kita tinggal. Namanya hidup kan tidak selalu indah ya, kecuali sih kalau ada anak dirut (atau dirutnya sekalian, haha) perusahaan terkenal atau pun konglomerat yang mau dengan saya. Saya sih gak masalah. Sayangnya gak ada yang mau sama saya tu, hihihi.

Semakin lama blog ini isinya jadi curhat, hihihi. Ya wis lah, daripada jadi tambah error. Good morning, evening, and afternoon, universe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s