Suka Duka Jadi Ibu Rumah Tangga

Illustration of Cartoon of smiling family seated at table waiting for food to be served by housewife.

Housewife

Yup gambar berikut (diambil dari sini) bisa menggambarkan kegiatan saya selama beberapa bulan terakhir. Cuma bedanya dengan saya adalah saya masih tinggal berdua saja dengan suami. Doakan saja semoga saya segera diberi kepercayaan dari Allah SWT. Jadi setelah saya ikut suami, yang saya kerjakan ya jadi ibu rumah tangga. Mulai dari masakin makanan buat suami, nyuci pakaian, dan masih banyak pekerjaan lainnya lah.

Gak sayang tuh sama ilmu yang didapat selama + 5 tahun itu????

Anda orang kesekian yang bertanya tentang hal yang sama kepada saya. Memang sih sebenarnya sayang banget, apalagi kalau menurut salah satu dosen saya kuliah di farmasi itu dilalui dengan berkorban waktu, tenaga, uang, air mata, dan darah. Setelah lulus kuliah S1, kalau anak fakultas lain bisa langsung melamar pekerjaan, masih harus kuliah lagi selama 1 tahun. Baru deh bisa melamar pekerjaan sesuai yang diinginkan. Setidaknya saya pernah merasakan bekerja, walaupun cuma 2 tahun. Pertimbangan saya untuk tidak bekerja dulu adalah karena nanti suami bakal sering pindah daerah tempat dinas. Nanti waktu saya sudah punya apotek sendiri, tiba-tiba suami pindah, sayang bisnisnya. Terus kenapa saya gak nyoba ngelamar jadi PNS gitu? Sebenarnya di sini saja saya disuruh ngelamar dan pasti diterima. Secara di sini ada instalasi farmasinya, tapi belum ada apotekernya. Jadi gedungnya nganggur aja gitu. Terus ada juga kan rekruitmen PNS dari Kementerian Kesehatan, kenapa saya gak ikut? kembali lagi ke pertimbangan awal saya. Kalau pegawai instansi vertikal, kan bisa ngurus pindahan. Mungkin bisa, tapi pasti ribet. Makanya mending saya gak ngelamar/bikin apotek dulu lah. Nanti kalau situasi memungkinkan, mungkin saya akan kembali bekerja. Kenapa gak ngelamar jadi PNS di daerah saya? Hello, tinggal bareng aja masih berdua aja, apalagi kalau terpisah.

Jadi Ibu Rumah Tangga itu gampang ya, nganggur aja gitu di rumah

Kalau ada yang ngomong kayak gini, yang mau saya tanya, “Emang situ dah pernah ngerasain jadi ibu rumah tangga?” terus saya lempar pake lap kotor baru tahu rasa. Siapa bilang jadi ibu rumah tangga itu gampang. Kerjaannya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi kayaknya ada saja gak berhenti. Kalau jadi karyawan aja kan ada jam kerjanya. Saya salut sama wanita karier yang juga bisa ngurus rumah tangganya dengan baik. Udah capek kerja tapi masih ngurusin suami dan anak. Terus ya kalau jadi ibu rumah tangga tuh gak ada pensiunnya. Jadi dari awal menikah sampai akhirnya nanti tua lalu meninggal tetap akan disibukkan dengan kegiatan mengurus rumah tangga. Kalau karyawan saja kan ada masa pensiunnya. Terus kalau karyawan ada masa cutinya, kalau ibu rumah tangga sekalinya cuti nggak ngurus rumah, pasti bakal keteteran.

Sekian tulisan saya hari ini. Kalau diterusin, takutnya ntar dikira curhat (padahal memang iya), hahaha. Anyway selamat pagi, siang, sore, dan malam untuk semua zona waktu di dunia🙂.

2 thoughts on “Suka Duka Jadi Ibu Rumah Tangga

    • Amiiiin ya rabbal ‘alamiiiin, Amel. Memang yang benar itu indah pada “waktu-Nya”, bukan pada “waktunya”. Btw gimana kabar? Baik-baik dan sehat-sehat saja kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s