Fakta Menarik tentang Tolikara (menurut saya)

Setelah hampir sebulan (waktu itu loh ya) saya di Papua, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan. Kita mulai bahas satu per satu. Hal ini khususnya terjadi di tempat di mana saya dan suami tinggal yah, bukan Papua secara keseluruhan. Jadi jangan protes, hihihi.

Porsi nasi di warung makan yang banyak

Yup, awalnya waktu saya makan di rumah makan, saya kaget banget tuh lihat porsi nasi di warung makan ini. Kalau untuk saya dan suami, mungkin untuk orang di Jawa pada umumnya, porsi segitu bisa untuk 2x makan. Kalau di warteg/rumah makan di jawa pada umumnya, pasti prosi nasi itu ditaruh di dalam mangkok dan biasanya kita pasti masih kurang kan makannya. Kalau di sini, jangan harap kurang. Malah lebih untuk saya, kecuali kalau biasa makan porsi kuli. Waktu itu saya bingung nih, mau dihabiskan kok rasanya gak kuat. Tapi kalau tidak dihabiskan, kok mubadzir, nanti jadi sodaraan sama setan donk, hihihi. Akhirnya saya terpaksa menghabiskan nasinya, walaupun pelan-pelan. Namanya kelaparan, jadi habis deh tuh. Memang saya wanita ajaib. Padahal kata suami saya kalau misalnya gak habis itu gak masalah kok.

Di lain kesempatan, saya pernah tuh makan sama suami di warung langganan suami. Waktu itu saya lagi malas masak, jadi gak masalah lah sekali-sekali makan di luar (nggaya yo, hehe). Karena langganan suami, jadi pemilik warung sudah hafal. Jadi khusus kami dikasihlah nasinya di dalam cething, jadi porsinya bisa sesuai kemampuan kami. Nah waktu itu saya lihat ada anak SD makan di warung tersebut. Dengan porsi yang wajar menurut orang papua (porsi kuli yang saya ceritakan di atas). dia bisa menghabiskannya loh. Saya sungguh kagum, ckckckck.

Gak kenal sama yang namanya uang logam

Yup, kalau di jawa uang logam mungkin begitu berharga ya. Bisa dipakai untuk beli permen, uang parkir, dll. Kalau di Papua, terutama daerah pegunungan (FYI Tolikara, Wamena (ibukota Kab. Jayawijaya) merupakan daerah pegunungan), mereka tidak mengenal uang logam. Awalnya waktu saya belanja di salah satu supermarket besar di Wamena, saya mau memberi uang logam supaya kembaliannya tidak susah. Kemudian suami saya memberitahu saya kalau saya tidak perlu memberikan uang receh logam tersebut. Saya menurut apa kata suami supaya saya bisa masuk surga (apa hubungannya yak? hihi). Ternyata benar, ada kembalian 500 perak pun dikasihnya permen.

Begitu di Tolikara pun sama. Setiap kali saya belanja ke warung maupun “pasar” (saya beri tanda kutip karena kalau di sana yang namanya pasar benar-benar kumpulan orang yang berjualan, tapi tempatnya bukan di pasar. Kalau berjualan di pasar, letaknya jauh dari keramaian), saya gak pernah tuh mendapat kembalian uang logam karena harganya agak mahal (saya jelaskan nanti).

Harganya 5000an dan lebih mahal dari di Jawa

Yup, benar sekali. Harga di sini ini minimal 5000an. Hanya sedikit saja yang harganya di bawah 5000, pastinya gak ada itu ratusan perak. Bahkan ada cerita menarik ketika saya belanja di pasar. Ketika saya belanja di pasar, saya tanya sama mama-mama yang jual. Waktu itu saya beli sayur bayam. Ketika saya tanya harganya, mereka jawab “lima lima ribu”. Asumsi saya waktu itu, harga 5 ikat 5000, kalau 1ikat berarti 1000. Lalu suami saya memberitahu saya kalau harga satu ikat bayam itu 5000. Jadi maksud mama tadi harga satu ikat bayam itulima ribuan. Untung suami saya menemani belanja. Kalau nggak, saya bisa malu berat. Hihihi….

Kalau tentang mahalnya harga-harga, itu sih tergantung ya. Kalau yang sayur, meskipun 5000an seikat (minimal itu), itu sih termasuk murah ya. Kalau kayak bahan-bahan lain, misal minyak goreng, telur (5000 rupiah 2 butir), dll, ya tahu sendiri kalau di sana barang-barang kan “impor” dari jawa. Kalau di Jayapura masih sama lah, tapi kalau sudah sampai Wamena, Tolikara, dll, ya tentu saja lebih mahal. Ngirimnya aja pake pesawat, gak ada jalan daratnya. Jadi ya jangan protes. Untuk ayam saja, adanya ayam potong yang matinya saja lebih lama daripada hidupnya karena lebih lama jadi esnya daripada hidupnya. Itu saja harganya 90ribuan/kg.

Hawanya dingin kayak di kulkas

Saya yang sudah terbiasa di daerah Sleman (hampir dekat dengan gunung merapi, meskipun gak begitu dekat. Bingung gak? Saya aja bingung, haha) yang agak lebih dingin daripada daerah lain di Jogja, ternyata harus takluk dengan dinginnya Tolikara ini. Yup, kalau pagi dinginnya minta ampun. Sebenarnya kalau mau mandi pagi saya tidak sanggup, tapi saya paksakan karena saya orang yang terbiasa harus mandi 2x sehari. Walaupun dinginnya menusuk tulang, saya paksakan untuk mandi. Malam hari pun saya tidak bisa kalau tidur tidak pakai selimut. Sekarang begitu saya balik ke Jogja, ternyata setelah 6 bulan saya tinggalkan Jogja semakin panas, terutama di daerah rumah saya. Padahal waktu saya masih sekolah dulu, pasti kalau mandi pagi saya kedinginan. Sekarang kalau saya di rumah di Jogja pasti selalu menyalakan kipas angin karena gak kuat sama panasnya.

Listrik gak nyala 24 jam

Yup, listrik di sini sumbernya bukan dari BUMN yang memonopoli listrik loh, tetapi dari Pemda setempat. Itu pun yang nyala cuma di sekitar Karubaga saja dan dijatah tiap 3 hari sekali dan nyalanya cuma malam saja. Untuk perkantoran atau toko-toko bisa menggunakan genset untuk pasokan listriknya. Selain pakai genset, bisa juga pakai solar cell. Ada yang tau gak solar cell itu apa? Bukan tenaga listrik pake bahan bakar solar loh, itu mah genset atuh. Solar cell itu adalah pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi dari sinar matahari.

Begini bentuknya (gambarnya dari sini:

Panel solar cell

Cara kerjanya kira-kira seperti ini. Panel solar cell (seperti gambar berikut) ditaruh di tempat yang terkena sinar matahari (biasanya di atap rumah/kantor), lalu hubungkan kabel dengan controller, kemudian hubungkan dengan aki. Jangan lupa pasang inverter yang mengubah arus DC ke AC, kemudian terjadilah arus listrik. Maafkan kalau penjelasannya agak kacau, maklum saya kan ngertinya tentang obat, bukan tentang listrik. Mungkin kalau di Jawa kurang familiar karena di Jawa tidak mengalami yang namanya susah listrik. Kalau di sini, solar cell itu bukan hal yang aneh. Yah namanya daerah agak pelosok, jadi fasilitas serba agak kurang. Tapi karena listrik yang terbatas ini membuat saya yang kalau waktu di Jawa pasti sudah uring-uringan kalau terjadi pemadaman listrik, padahal gak nyampe 3 hari, jadi terbiasa tanpa listrik. Jadi kalau sekarang waktu di jawa ini kena jatah pemadaman bergilir, saya sudah biasa aja. Sudah terlatih gitu loh (malah curhat :p).

Markisanya hmmmmm…. Ueeenaaaak banget

Markisa yang kita tahu kan asalnya dari Sumatra Utara ya, terutama terkenal dengan sirupnya. Buah markisa yang kita tahu kan rasanya manis-manis asem gitu ya, makanya jarang dijual dalam bentuk buah. Waktu suami pulang ke Jogja, suami memberi saya dan keluarga oleh-oleh buah yang katanya sih markisa. Awalnya saya kira pasti bakalan asem. Tapi begitu saya cicip, hmmm manis banget. Bahkan buah yang masih mudanya pun juga manis rasanya. Begini nih bentuknya

Markisa Papua

Gimana maknyus kan??? Apalagi kalau makannya waktu cuaca lagi panas, segeeeerrrrr banget.  Dua bulan yang lalu saya lihat di Superindo Jalan Kaliurang ada tuh buah markisa papua ini. Saya gatel pengen beli, tapi gak jadi. Padahal waktu itu saya dan suami pernah punya keinginan untuk mengekspor buah markisa papua ini ke jawa biar orang-orang ngerasain betapa nikmatnya markisa papua ini (hmmmm, jadi kepengen. Kapan ya bisa makan ini lagi??? Semoga besok suami saya membawa buah ini sebagai oleh-oleh waktu mudik nanti, amiiiin)

Kayaknya cuma ini yang membedakan papua (khususnya daerah saya dan suami tinggal) dengan di daerah jawa (menurut saya). Nanti kalau ada lagi yang saya ingat, saya update lagi🙂.

One thought on “Fakta Menarik tentang Tolikara (menurut saya)

  1. Pingback: Wajar Nggak Sih??? | Nadya Veronica

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s