Pengalaman PKPA Apotek

Selama 1 bulan PKPA di sebuah apotek di Yogya, awalnya mikir pasti berat banget kerja di apotek. Mana kenyataan di lapangan dan teori ada perbedaan yg jauh. Banyak yg ga sesuai, hal ini terjadi karena salah kaprah yang sudah melekat di masyarakat. Misalnya banyak konsumen yang datang ke apotek untuk membeli obat keras yang bukan termasuk golongan Obat Wajib Apotek, padahal sudah diingatkan jika sakitnya tidak begitu gawat mending tidak usah beli obat tersebut. Namanya manusia, ada yg nurut dan ada juga yang gak nurut.

Namun selama 1 bulan saya PKPA,saya sudah mendapat banyak ilmu dan pengalaman ketika praktek di apotek, secara apotek tempat saya PKPA merupakan apotek pendidikan yang sudah berusaha menerapkan hal2 yang sesuai dengan teori. Meskiupn terkadang kerap melakukan beberapa kesalahan, hal itu dikarenakan belum terampil dan belum mengenal layout apotek, lambat laun saya bisa beradaptasi dengan baik. Ditambah lagi karyawan di sana baik2. Kita dah seperti keluarga. Semoga wawasan semakin bertambah dan suatu saat nanti farmasis semakin dikenal di masyarakat.

Hidup Farmasis,,,, No pharmacist no service

2 thoughts on “Pengalaman PKPA Apotek

  1. Hidup Farmasis,,,, No pharmacist no service

    memang benar tapi apakah sudah sebanding dengan nominal timbal balik untuk seorang farmacist, dengan melihat nominal minimal untuk seorang Apt

  2. Pingback: 2010 in review « Nadya Veron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s